Friday, February 29, 2008

Why I learn Economics

After graduating from senior high school, I had never thought of being a student of economics. Not even once! However, after taking economics courses for about three years, I have got absorbed to problems and intellectuals intrigues after the birth of Adam Smith’s “Wealth of Nations”.

Learning quite carefully, I have found out that Economics allied with politics are two sciences ruling the world. I know that exact sciences and technological informatics development have played a salient role in determining and directing human race’s civilization and, in most cases, wealth of nations. But, I also realized that at the same time no matter how great a state is in sciences and technological mastering level, political economy is a very significance element in any developments of nations. In this little world or even in our daily life, in most cases the superior intimidates and often rules the inferior ones out.

Contemplating why I chose economics as major in college which means may determine my future career and life, the late Joanne Robinson of Cambridge helped affirm my objective in economics.

She said that “the purpose of studying economics is not to acquire a set of ready-made answers to economics questions, but to learn how to avoid being deceived by economists"

I am trying to learn economics so well that I can help build my country not to be deceived by other countries since I know in economics, there is a capitalism adagio, which turns to be real in any condition, stating that “there is no such thing as free lunch.” I know that our parents always remain us not to put a negative suspect on other people’s help, but world is cruel, pal!

Tuesday, February 26, 2008

This is Why Pusgerak Should Be the 'Boss'!

Current condition in BEM UI is that there is a disagreement among them, if I may say so, which states Pusgerak should be at the same level with other social and politics division since when it is above them, it's difficult to get demonstrations done because it takes long time for Pusgerak to rationalize the argument required. Here is my thought about this.!


Di dalam suatu negara, terlepas dari paradigma politik apa yang dianutnya, mahasiswa merupakan suatu golongan istimewa yang memiliki tanggung jawab yang besar, apalagi di suatu negara demokrasi yang memiliki tingkat partisipasi rakyat yang kecil dalam pendidikan tinggi. Kenapa? Hal ini disebabkan oleh adanya probabilita deviasi pemerintah dan badan legislator yang mewakili di tataran kekuasaan tertinggi dari tugas idealnya, yaitu melaksanakan kehendak umum yang dianggap baik oleh rakyat pada umumnya. Lebih penting lagi, yaitu karena dalam kasus negara demokrasi, kedaulatan tertinggi berada di tangan rakyat. Kedua kondisi tersebut dapat menjadi argumen yang fundamental bagi mahasiswa sebagai suatu golongan yang istimewa, karena mereka dianggap sebagai suatu kumpulan massa yang memiliki tingkat intelegensi di atas rata-rata serta ketidakberpihakan kepada pihak manapun kecuali rakyat kecil.

Lalu, pertanyaannya sekarang adalah apakah semua mahasiswa itu termasuk golongan intelektual? Bila mengacu pada Antonio Gramsci, jawabannya adalah tidak, sebab menurutnya seseorang dapat dikatakan sebagai seorang intelektual bila dia mengamalkan ilmu yang dimilikinya dan menerapkannya dalam tataran praksis, yaitu untuk suatu pergerakan, tentu saja, yang memihak kepada rakyat kecil. Lalu mengapa golongan intelektual begitu penting? Gunnar Myrdal merasionalisasi pentingnya golongan intelektual dengan mengatakan: “The intellectuals are not in the same way [as other people] part of class society...above society. This makes it possible for them to look with less passion and prejudice on the ongoing struggles.

Lalu pertanyaan yang selanjutnya sekarang adalah apakah peran mahasiswa di Indonesia, yang merupakan negara demokrasi, begitu signifikan? Seberapa pentingkah mahasiswa menganggap peran sebagai, katakanlah, supervisor dalam keberlangsungan hidup pemerintahan di negara ini?

Sekelumit Sejarah Pergerakan

Peran yang dijalankan oleh mahasiswa di Indonesia begitu signifikan sehingga selalu mewarnai dua dari tiga orde dalam sejarah bangsa ini, yaitu mulai dari pengajuan tritura pada pertengahan tahun 1960-an yang dapat dikatakan memberikan efek pada mundurnya Bung Karno pada masa orde lama; pada masa orde baru Malari 1974, yang menunjukkan penolakan mahasiswa terhadap masuknya modal asing, khususnya dari Jepang ketika itu, dan reformasi Mei ’98, yang menunjukkan rasa muak kepada Soeharto beserta kroni-kroninya yang mencapai titik kulminasinya dan berujung pada mundurnya Soeharto, turut memberikan warna tersendiri pada sejarah pergerakan mahasiswa di Indonesia.

Ketiga peristiwa pergerakan mayor tersebut hanya mengambil sekelumit gambaran dari betapa aksi-aksi demonstrasi selalu menghiasi setiap langkah kebijakan yang diambil yang menyangkut hajat hidup orang banyak.

Mahasiswa sebagai Watchdog

Mengapa suatu pemerintahan yang berbentuk demokrasi diyakini oleh sebagian besar pemikir politik dan praktisi pemerintahan sebagai bentuk pemerintahan yang paling baik? Dilihat dari tataran filosofisnya, argumen tersebut dapat dibenarkan dengan definisi demokrasi yang merupakan suatu hak bagi seluruh warga suatu negara tanpa pandang bulu dalam mendapatkan share dalam kekuasaan politik, yaitu hak untuk dapat memilih dan dipilih. Selain itu, data empiris juga mendukung klaim tersebut dengan menyampaikan fakta bahwa negara-negara yang paling maju di dunia juga merupakan negara-negara yang paling sukses dalam menjalankan demokrasinya.

Namun apakah demokrasi merupakan bentuk pemerintahan yang sempurna? Rousseau meragukannya dengan mengatakan bahwa rakyat seringkali ditipu oleh pemerintah dan legislator sehingga tampaknya mereka menginginkan yang buruk baginya. Lebih lanjut dia mengatakan bahwa tidak ada yang lebih berbahaya daripada pengaruh kepentingan-kepentingan pribadi dalam urusan-urusan umum, dan penyalahgunaan undang-undang oleh pemerintah tidak seberapa jika dibandingkan dengan kebobrokan legislator, yang merupakan akibat pandangan-pandangan pribadi. Prediksi-prediksi yang disampaikan oleh Rousseau beberapa abad yang lalu itu ternyata masih relevan bagi Indonesia hingga saat ini.

Melihat begitu banyaknya celah yang dapat menyengsarakan rakyat pada Indonesia dan yang memang sudah terbukti mendasari argumen diperlukannya suatu pengawas atau anjing penjaga (watch dog) untuk mengawasi berjalannya pemerintahan yang ideal bagi masyarakat Indonesia. Argumen kenapa mahasiswa yang harus memikul tanggung jawab yang besar dan mulia ini telah disebutkan sebelumnya. Pertanyaan yang mengemuka selanjutnya adalah bagaimana mahasiswa melakukannya? Ada beberapa cara yang lazim diutarakan. Yang pertama adalah dengan melakukan demonstrasi dengan berteriak-teriak di jalan-jalan dan menuntut ini-itu kepada pemerintah atau lembaga terkait. Cara yang kedua adalah dengan melakukan lobi-lobi kepada anggota dewan yang ‘terhormat’ dan menghindarkan cara konfrontasi.

Pentingnya Rasionalisasi Gerakan!

Sebagian besar mahasiswa setelah era reformasi menganggap bahwa aksi turun ke jalan menuntut aspirasi rakyat kecil dalam mengawasi tindak-tanduk pemerintah dan lembaga tinggi negara lainnya merupakan cara yang sudah usang. Mereka lebih cenderung menganggap bahwa lobi-lobi ke gedung DPR/MPR lebih intelek dalam menyuarakan aspirasi rakyat kecil. Saya sendiri sebetulnya lebih prefer kepada cara yang kedua, dengan asumsi anggota DPR mendengarkan dengan sungguh-sungguh aspirasi mahasiswa, sebab lebih efektif dalam menyuarakan aspirasi dari mahasiswa, namun apa lacur ternyata berdasarkan pengalaman rekan-rekan saya di pusgerak BEM UI, para anggota DPR tersebut tidak menanggapi dengan baik, entah karena menganggap kredibilitas mahasiswa yang masih rendah atau justru karena mereka sendiri tidak mengerti pokok permasalahan yang sedang diadvokasi. Namun, saya rasa alasan kedua yang paling tepat. Sebagian sangat besar dari mereka tidak memiliki kapabilitas dan kapasitas intelektual yang mumpuni untuk dapat melayani tuntutan dari mahasiswa.

Lalu, jika sudah demikian apakah aksi turun ke jalan secara relatif lebih efektif? Untuk beberapa kondisi, iya sebab dengan turun ke jalan melakukan demonstrasi, kita berperan sebagai pengingat pemerintah yang telah keluar dari jalurnya. Kondisi tersebut adalah ketika sebelumnya telah dilakukan kajian yang mendalam mengenai isu yang akan disuarakan di jalan nantinya sebagai dasar rasionalisasi; ketika isu tersebut sudah disuarakan melalui dengar pendapat di gedung DPR/MPR; dan ketika isu tersebut sangat krusial dan mendesak sehingga tidak memungkinkan dilakukannya kajian yang mendalam. Namun, seperti sulitnya mendefinisikan time period dari short run dan long run, kita pun kesulitan dalam mendefinisikan keterdesakan yang dimaksud sehingga berujung pada aksi turun ke jalan.

Kita juga harus dapat belajar dari kesalahan masa lalu, yaitu ketika mahasiswa melakukan aksi demonstrasi pada pertengahan tahun 1960-an yang berujung pada mundurnya Bung Karno dan peristiwa Malari ’74. Mundurnya Bung Karno justru digantikan oleh pemimpin otoriter lainnya, yaitu Soeharto yang akhirnya berkuasa selama 31 tahun; Malari ’74 yang berujung pada kerusuhan justru merugikan rakyat kecil. Padahal, jika dilihat secara seksama, sebetulnya ketika itu Jepang bukanlah investor asing terbesar di Indonesia, melainkan Amerika Serikat.

Oleh sebab itu, ketika sebagian aktivis mahasiswa yang pro pergerakan melalui demonstrasi mencibir para penggodok isu di BEM UI yang terlalu lama mengkaji suatu isu, mereka seharusnya malu kepada diri mereka sendiri ketika mereka hanya bergerak berdasarkan emosi sesaat sebab telah dikatakan sebelumnya bahwa mahasiswa memiliki kapasitas intelektual di atas rata-rata yang sudah selayaknyalah bertumpu kepada daya nalar. Namun, bukan berarti daya nalar diatas segala-galanya dalam bergerak, sebab terkadang emosi juga diperlukan dalam bergerak yang bila tidak ada lagi, setiap pergerakan yang dilakukan oleh mahasiswa seakan tidak memiliki hati lagi.

Penutup

Melihat begitu banyaknya kebijakan-kebijakan publik dan undang-undang yang kurang berpihak kepada rakyat kecil, baik secara langsung maupun tidak, gerakan-gerakan yang dilakukan oleh mahasiswa masih sangat esensial dalam menentukan arah bangsa ini seperti yang dikatakan oleh Aristoteles dalam “Politics”: “no regime could satisfy man completely, and that the dissatisfaction would lead men to replace one regime with another in an endless cycle.” Oleh sebab itu, mahasiswa harus senantiasa bergerak mengingatkan pemerintah melalui berbagai cara agar pemerintah selalu ingat akan tugasnya yang paling utama, yaitu menyejahterakan rakyatnya.

Monday, January 14, 2008

You are So Damn Lucky, Soeharto!

Mantan Presiden Republik Indonesia yang kedua, Soeharto sekarang terbaring tidak berdaya, dan katanya sudah hampir mati. Dia (maaf tidak menggunakan kata ‘Beliau’ soalnya kebagusan) mengalami kegagalan multi organ; hidupnya tinggal bergantung kepada mesin-mesin canggih pengganti kehidupan yang menunjukkan kehebatan pengetahuan manusia. Namun posting ini tidak ingin mengungkapkan kekaguman saya terhadap kecanggihan mesin-mesin tersebut. Saya ingin mengungkapkan betapa beruntungnya koruptor nomor wahid se-Indonesia tersebut, well memang belum terbukti sih, tapi keyakinan saya berkata demikian (bagaimana mau terungkap kalau yang meriksa juga bekas bawahannya, betul?)

Saya tidak heran dan mencibir Megawati karena tidak menjenguk Soeharto hingga menjelang ajalnya saat ini. Memang saya tidak begitu paham perasaannya sebab ayah saya tidak atau belum pernah diasingkan dan dijadikan seorang tahanan rumah oleh orang lain, layaknya Presiden pertama Republik ini Bung Karno. Tapi, jika ayah saya mengalami hal yang serupa yang dialami oleh Bung Karno, saya pun tidak akan menjenguk orang yang telah memperlakukannya seperti itu (maafkan praduga saya yang menuduh Soeharto sebagai pelaku). Biarpun kata orang tua dan agama tidak baik mendendam, biar urusan saya dengan Tuhan. Salut Megawati! (tapi dalam hal ini saja, loh!)

Saya begitu sedih membaca bagaimana perawatan kesehatan yang diterima Bung Karno saat itu. Coba bandingkan dengan apa yang diterima oleh Soeharto sekarang dengan 25 dokter dari tim dokter kepresidenan. Bagai bumi dan langit. Padahal, bila dibandingkan jasa Bung Karno dengan Soeharto, meskipun sulit diukurnya, saya rasa jauh lebih besar jasa Bung Karno. Dialah salah satu pendiri bangsa ini. Sedangkan Soeharto menurut saya hanya berjasa menanamkan bibit KKN yang sekarang telah tumbuh subur sehingga menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara yang tingkat korupsinya paling tinggi. Betul bila dia telah mengusahakan swasembada pangan pada tahun 1980-an dan yang lainnya, namun saya rasa keburukannya ataupun pertumbuhan emas yang dialami perekonomian Indonesia selama dia berkuasa itu karena pemikiran Widjojo cs. Tunggu saja sampai saya menulis skripsi tentang ini.

Melihat begitu banyak doa yang dipanjatkan untuk kesembuhan Soeharto, saya juga turut berdoa, jika dia meninggal tidak untuk kesembuhannya karena dia juga sudah uzur dan tidak berdaya lagi, semoga Tuhan memperhitungkan dosa-dosa yang diperbuat olehnya selama dia hidup di muka bumi ini. Kembali ke masalah perawatan yang diterima oleh Soeharto, saya hanya bisa berkata “you are so damn lucky, Soeharto!” karena para pendukung anda masih setia, atau justru takut dipenjara ?! Saya rasa tidak perlu Tuhan untuk turun tangan untuk mengetahui kenapa banyak yang ingin Soeharto mendapatkan perawatan terbaik.

Friday, January 4, 2008

Comfort View Vs Humanity: Comfort View Wins!

Yesterday, I went to my parents’ shop to assist them, once in a while. In my way to home we passed along a traditional market, I suppose. However, I was surprised that a beautiful public park I found, instead. I said “where the hell are they (fruit sellers, vegetable sellers, coconuts peelers, and their friends)?” It was there a year ago. My parents said that it was no longer there since several months ago, if they aren’t mistaken. Facts given were quite reliable since they regularly pass the street.

I just couldn’t stop shaking my head. I can’t imagine how many people must struggle to get some money just to live after their asses being kicked? This (forced movement a.k.a ‘penggusuran’) happened (again!). I don’t know how many traditional markets or illegal market have been swept out. I have no idea what have happened to other regions in Indonesia, but in Jakarta, at least on what I have seen by far, a comfort view like this is common. Jakarta, in my opinion, has been too busy to manage its make-up to look gorgeous as the capital city, without ever concerning on poverty rate, except for BOS or other significant yet I don't know.

I don’t know what’s in the authorities’ heads. They don’t seem to consider poor people as a part of Jakarta. I suppose they just consider poor people as a burden to wipe out. Look at those ‘penggusuran’ and Perda Tibum authorized. I know that sometimes PKLs break the rules, but the govt officials can’t put mere blames on them. They can’t find the legal ones because of lack of capital, neither physical nor intelligence.

They place those poor people as a scapegoat to conceal their incompetent, impotent, low quality, you name it works. It’s obvious and undisputable, I think. They have not provided reliable solutions. During analyzing and concerning this issue, I wonder if this is a problem of their hearts of inadequate incentive to develop competitiveness of poor people?

However, I don't know ‘till when this drama, where the fatty govt officials and other corruptive local representatives play unbeaten role and the poor people play the suffered ones, would end. Let ‘comfort view’ is Mike Tyson and ‘humanity’ is Chris John. If they fight in an occasion, it’s clearly Mike Tyson will be the absolute winner. Hope not always!

Wednesday, December 26, 2007

“Yeah, I am able to wander more anywhere I want to go”, says one of ‘honored’ DPR representatives - (at the very least this is what my imagination tol

Reading a ‘tale’, if I may use this term to refer to news conveying a rise in DPR ‘perjalanan dinas’ fund. Waking up from bed on 10:05 (bad habit of holiday) and then started taking breakfast accompanied by reading newspaper, I was staggered, but unfortunately the usual one, on a 30 percent rise of ‘dana perjalanan dinas’ DPR from 2006. For the year 2007, budget for ‘perjalanan dinas’ is Rp 214.7 billion, while in 2006 it was ‘just’ Rp 189.1 billion rising 120 percent from 2005. In 2005, the budget was ‘just-just’ Rp 81.9 billion.

This huge budget would be fine if offset by a rise in productivity too, but DPR has only been able to accomplish about 93 RUU from 284 RUU targeted (hah?!)

I just wonder how can they be so ignorant and self-centered when our beloved country is still trapped in multidimensional crisis. Huh..I just can say this hell information has just ruined my day.. Damn!

Peeping Through The Veil of Poverty

A few days ago, on December 20th specifically, me and a friend of mine, Azionk, sometimes he would refer himself as Adi, went to one of most famous malls in northern Jakarta. We got a lot of courage and willingness to go through a pouring rain just to see our friend who has just got a job at Oakley.

At a parking lot, my friend asked me if I perceive Indonesia as a rich country or not, looking at cars and expensive motorcycles taking a ‘rest’ at mall’s parking lot. Well, if a foreigner who arrives in Indonesia and lives near this mall just for a week, I think he would consider Indonesia as one of developed countries and he will not see some traces of economic crisis then.

However, I said gently to Azionk that I would not perceive Indonesia to have escaped perceptions of developing country since those are just a part of Indonesian, Jakartanese for more specific term. That was a simple answer yet obvious one, I think.

Sunday, November 11, 2007

Apakah mereka akan menjadi pemimpin besar?

Selama tiga hari, tanggal 9-11 November 2007 yang lalu, pusgerak BEM UI, dimana saya juga ikut bergabung sebagai staf kastrat, menyelenggarakan acara LKSM, sebuah acara yang ditujukan untuk mempersiapkan pemimpin masa depan yang hebat dan kritis. Di sana para peserta tidak hanya mendengarkan materi dari berbagai pembicara yang sudah terkenal akan kekritisannya dan kekayaan wawasannya, tetapi juga mengekspresikan opininya.

Akan tetapi, ada sebuah even yang mengejutkan saya, karena saya mengasumsikan mereka sebagai mahasiswa yang berbeda dari mahasiswa lain, yaitu ketika waktu makan siang tiba. Ketika itu tiba giliran saya setelah antrian yang tidak cukup panjang, namun betapa terkejutnya saya karena kerupuk sudah habis, padahal saya dan beberapa teman saya belum makan, sedangkan di saat yang sama saya melihat kerupuk yang berlebihan di piring para peserta. Saya jadi berpikir, apa artinya mereka bercuap-cuap mengenai nasionalisme kebangsaan, kepedulian terhadap rakyat kecil, dsb., apabila untuk kerupuk saja mereka tidak bisa berbagi dengan saudaranya sendiri yang sudah jelas di depan mata?

Selain itu, mereka juga gemar untuk memperkuat stigma orang Indonesia yang suka jam karet, sebab mereka suka sekali telat menghadiri setiap sesinya, mulai dari 5 hingga 45 menit, karena berbagai alasan, mulai dari yang paling masuk akal sampai yang paling tidak masuk akal. Apakah mereka benar-benar dapat diharapkan untuk menjadi pemimpin masa depan bangsa ini? Well, rasa pesimis saya mengatakan bahwa 'saya rasa mereka sama saja dengan para pejabat kita yang hanya gemar berwacana tapi tidak melakukan apa-apa, NATO' Namun, rasa optimis saya mengatakan bahwa 'saya rasa mereka baru menjalani perjalanan panjang untuk menjadi pemimpin yang hebat, layaknya seorang bayi yang baru lahir pasti tidak bisa langsunt berjalan, bukan?'

Above all, saya memiliki asa yang besar bahwa di UI ini masih terdapat setidaknya mahasiswa yang rela menghabiskan waktunya untuk berdiskusi semacam ini, yang mungkin bagi sebagian besar lainnya hanya merupakan tertawaan belaka.