Showing posts with label Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Indonesia. Show all posts

Thursday, August 21, 2008

Happy So Belated Birthday My Beloved Country!!

It’s been 63 years since Soekarno-Hatta proclaimed that Indonesia was a sovereign country.. I know that I hadn’t been born by then, but I know a little what happened in progress before and after that proclamation.

It would be stale if you are just talking about whether Indonesia has already been sovereign or not because it just makes yourself indulged in this kind of boring discussion and, at last, plunge into the lazy habit of thinking about the future we have in front of us. No essential breakthrough so far, except KPK and absurd democracy since 1998. No looking forward just backward blaming globalization; no vision just shortsighted self-interest goals; no self consciousness just being selfish; no statesmen just greedy-idiot politicians; no anything required to build a powerful nation. No!! This is a kind of nightmare I have ever had. Indonesia is nothing, in the eyes of other nations.

Oh Indonesia, till when you will rise against your own chronic diseases. I know it would not be wise to just commemorate, and blame this horrible situation. It’s time to wake up and stand still. Like a piece of lyrics of my all-time favorite song, Cahaya Bulan

“…sudah waktunya berdiri mencari jawaban kegelisahan hati…”

Hidup Indonesia!! Happy 63rd birthday. Hopefully in the next twenty something years I could contribute something significant to this nation building…I hope my fellows also have this kind of dream because we are the hopes of this sick nation, if I may say so..

Tuesday, May 20, 2008

Kapan ya ada acara seperti ini?

Kemarin pagi saya secara kebetulan menonton doraemon, salah satu film kartun terfavorit saya. Hehehe... Saya sangat terkejut mengetahui bahwa film kartun tersebut membawakan tema yang berat, yaitu masalah pencemaran lingkungan oleh manusia. Saya jadi bertanya-tanya kepada diri saya sendiri kapan acara-acara yang ditampilkan di televisi lokal kita membawakan pesan yang begitu substansial dan esensial untuk kemajuan bangsa sendiri dan sukur-sukur untuk kemajuan dunia. Tidak usah kartun seperti doraemon, yang saya tahu pasti sulit untuk membuat film animasi seperti itu, cukuplah seperti adaptasi dari sesame street yang sangat bermanfaat untuk pendidikan adik-adik kita...


Saya merasa kesal dengan film-film Indonesia di bioskop saat ini, yang berbau-bau pornografi tapi nanggung..Kalau kata senior saya itu adalah film banci...setengah-setengah..Terlepas dari apakah saya menghormati HAM seseorang atau tidak tapi saya tidak suka banci.. :p






Ayo Bangkit, Indonesia-ku!

Jujur saja saya ngga begitu tahu bagaimana proses terbentuknya organisasi Boedi Oetomo, dimana tanggal berdirinya, yaitu 20 mei 1908, kini diperingati sebagai hari kebangkitan nasional. Tapi, satu yang pasti saya ketahui, yaitu bahwa para pendirinya adalah para intelektual muda yang sangat peduli terhadap kebangkitan Indonesia ketika itu. Satu abad telah berlalu, namun Indonesia masih saja tidak berkutat dengan masalah politis diantara kalangan politisinya sendiri yang saling berebut kekuasaan, segala cara dihalalkan. Peran sebagai oposisi jadi-jadian di parlemen pun dilakonkan. Tujuannya hanya satu: porsi kue ekonomi yang besar.

Salah satu refleksi yang paling mengkhawatirkan atas eksistensi unsur politis dalam ekonomi adalah ketika terjadinya krisis ekonomi tahun 97 yang lalu, studi yang dilakukan oleh Institute of International Economics untuk melihat apakah krisis tersebut dapat diprediksi sebelumnya menyatakan bahwa Indonesia tidak termasuk negara yang masuk dalam kategori negara yang vulnerable terhadap krisis tersebut, sebab unsur politik tidak dimasukkan di dalam modelnya. Namun, setelah unsur politik dimasukkan ke dalamnya, barulah Indonesia dapat dikategorikan sebagai salah satu negara yang rawan terhadap krisis!

Saya jadi berpikir dan heran kapan Indonesia bisa menjadi bangsa yang benar-benar besar dalam arti kekuatan ekonomi dan teknologi yang besar, tidak hanya besar dalam arti yang semu, yaitu hanya besar secara geografis dan demografis. Saya sangat terkejut ketika beberapa waktu yang lalu membaca harian luar negeri (saya lupa namanya apa), mengetahui bahwa Cindy Adams tidak mencantumkan buku biografi Bung Karno sebagai salah satu hasil karyanya! Padahal ketika dia menulis biografi tersebut, yaitu pada tahun 1960-an Bung Karno masih merupakan salah satu tokoh dari dunia ketiga yang disegani, dan saya yakin kalau Cindy Adams ini akan mengakui biografi Bung Karno itu sebagai salah satu hasil karya masterpiece-nya.

Kemarin seluruh stasiun TV milik swasta dan pemerintah mempersembahkan sebuah acara yang berisikan tarian dan nyanyian khas daerah masing-masing di Indonesia, serta lagu nasional yang dinyanyikan oleh penyanyi-penyanyi kelas atas Indonesia. Tidak lupa ditampilkan juga atraksi yang dilakukan oleh para polisi dan tentara. Jujur saja saya sangat kecewa dan tidak puas mendapati isi acara yang demikian. Sangat monoton dan membosankan. Tidak ada yang istimewa. Saya jadi berpikir hanya inikah yang dapat ditampilkan ketika bangsa ini memperingati seabad kebangkitan nasional? Rasa-rasanya tidak ada perbuatan konkret yang dilakukan oleh pemerintah dan rakyat Indonesia kebanyakan untuk bias memajukan bangsa ini, selain menampilkan acara hiburan seperti nyanyian di televisi setiap tahunnya. Apakah pemerintah dan segenap rakyat Indonesia sungguh-sungguh meresapi makna dari kebangkitan nasional? Jelas jawabannya tidak jelas sama sekali.

Melihat begitu besarnya peranan intelektual muda dalam mewujudkan Indonesia yang lebih baik dalam organisasi Boedi Oetomo, mampukah kita memberikan kebangkitan jilid ke-2 bagi Indonesia? Sulit sekali untuk menjawab pertanyaan ini. Jika melihat prestasi teman-teman kita yang berhasil meraih medali pada ajang olimpiade sains tingkat dunia, rasa optimis pasti akan muncul, namun jika melihat acara-acara yang ditayangkan oleh televisi serta tema-tema media yang sangat dangkal, saya jadi pesimis, sebab apa yang ditayangkan oleh televisi mencerminkan selera para konsumennya, yang diantaranya adalah kaum muda.

Tetapi sebagai orang Indonesia, saya pastinya sangat berharap akan kemajuan bangsanya, berharap Indonesia dapat menjadi seperti Korea Selatan dan China yang berhasil meningkatkan kinerjanya baik dalam ekonomi dan olahraga. Kapan Indonesia dapat menjadi seperti kedua negara tersebut? Jika ditanya seperti itu hanya ‘entah’ yang dapat saya katakan. Di dalam hati saya hanya dapat berkata: “Ayo bangkit, Indonesia-ku! agar jangan diremehkan lagi oleh bangsa-bangsa di dunia”

Thursday, May 1, 2008

Why Should Bother?

Indonesia is a unique state, I suppose. When I say unique it may mean that there is nearly none like Indonesia in this whole world would do the same thing as Indonesian do. Religion is a really sensitive issue in this biggest moslem population in the world. Today, Ahmadiyah has taken an enormous attention to many Indonesian. It’s been dubbed as satanic religion, if I may say so. It’s gone far away from the Islamic mainstream. One of the most mistakenly understood about islam is that it accepts another prophet after Muhammad SAW, that is Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, while, based on my very limited knowledge about Islam, it’s officially admitted that there will be another prophet after him. It is stated in Al Quran. The results are demolition, killing, and other anarchist actions.

I have been wondering why the Islamic mainstream believers so bother about Ahmadiyah’s emergence? Are they just so afraid of being overtaken by this new stream?

Personally, I’m fine with the others’ belief. Why should disturb them? Masykurudin Hafidz gave an elegant explanation about it, see here. I am wholeheartedly agreed with him. Actually, I think that those people are so idiot, hypocrite, and selfish at the same time. They merely misunderstand what their religion states.

Is this due to their being scary for being overdriven by this new stream, since when Ahmadiyah is getting bigger by more followers coming in, they are getting angrier. I suppose yes. I do not really believe in free lunch. They do this not to prevent the others to get into the wrong path, but because there is political force behind it, I suppose. They worry that it will obscure their religious expansion in this hypocrite state. If you pay attention to what they have done so far, what have they defended. Have you ever wondered why these massive mass of demonstrants have not so bothered with issue of poverty, health, education, and alike?

Come on guys don’t worsen stigma of Islam as a terrorist religion…Don’t get me wrong..

Monday, January 14, 2008

You are So Damn Lucky, Soeharto!

Mantan Presiden Republik Indonesia yang kedua, Soeharto sekarang terbaring tidak berdaya, dan katanya sudah hampir mati. Dia (maaf tidak menggunakan kata ‘Beliau’ soalnya kebagusan) mengalami kegagalan multi organ; hidupnya tinggal bergantung kepada mesin-mesin canggih pengganti kehidupan yang menunjukkan kehebatan pengetahuan manusia. Namun posting ini tidak ingin mengungkapkan kekaguman saya terhadap kecanggihan mesin-mesin tersebut. Saya ingin mengungkapkan betapa beruntungnya koruptor nomor wahid se-Indonesia tersebut, well memang belum terbukti sih, tapi keyakinan saya berkata demikian (bagaimana mau terungkap kalau yang meriksa juga bekas bawahannya, betul?)

Saya tidak heran dan mencibir Megawati karena tidak menjenguk Soeharto hingga menjelang ajalnya saat ini. Memang saya tidak begitu paham perasaannya sebab ayah saya tidak atau belum pernah diasingkan dan dijadikan seorang tahanan rumah oleh orang lain, layaknya Presiden pertama Republik ini Bung Karno. Tapi, jika ayah saya mengalami hal yang serupa yang dialami oleh Bung Karno, saya pun tidak akan menjenguk orang yang telah memperlakukannya seperti itu (maafkan praduga saya yang menuduh Soeharto sebagai pelaku). Biarpun kata orang tua dan agama tidak baik mendendam, biar urusan saya dengan Tuhan. Salut Megawati! (tapi dalam hal ini saja, loh!)

Saya begitu sedih membaca bagaimana perawatan kesehatan yang diterima Bung Karno saat itu. Coba bandingkan dengan apa yang diterima oleh Soeharto sekarang dengan 25 dokter dari tim dokter kepresidenan. Bagai bumi dan langit. Padahal, bila dibandingkan jasa Bung Karno dengan Soeharto, meskipun sulit diukurnya, saya rasa jauh lebih besar jasa Bung Karno. Dialah salah satu pendiri bangsa ini. Sedangkan Soeharto menurut saya hanya berjasa menanamkan bibit KKN yang sekarang telah tumbuh subur sehingga menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara yang tingkat korupsinya paling tinggi. Betul bila dia telah mengusahakan swasembada pangan pada tahun 1980-an dan yang lainnya, namun saya rasa keburukannya ataupun pertumbuhan emas yang dialami perekonomian Indonesia selama dia berkuasa itu karena pemikiran Widjojo cs. Tunggu saja sampai saya menulis skripsi tentang ini.

Melihat begitu banyak doa yang dipanjatkan untuk kesembuhan Soeharto, saya juga turut berdoa, jika dia meninggal tidak untuk kesembuhannya karena dia juga sudah uzur dan tidak berdaya lagi, semoga Tuhan memperhitungkan dosa-dosa yang diperbuat olehnya selama dia hidup di muka bumi ini. Kembali ke masalah perawatan yang diterima oleh Soeharto, saya hanya bisa berkata “you are so damn lucky, Soeharto!” karena para pendukung anda masih setia, atau justru takut dipenjara ?! Saya rasa tidak perlu Tuhan untuk turun tangan untuk mengetahui kenapa banyak yang ingin Soeharto mendapatkan perawatan terbaik.